Apa Arti Memberi Kepada Dunia dan Kepada Allah?

Table of Contents


Kita hidup di zaman di mana hampir segala sesuatu ingin dibuat kelihatan. Kalau ada orang menyumbang, biasanya harus ada dokumentasi: difoto, dipublikasikan di media sosial, bahkan terkadang masuk berita. Dengan begitu orang tampak dermawan, baik hati, dan peduli. Namun kalau menerima sesuatu? Biasanya justru dilakukan diam-diam. Bahkan ketika mendapat hadiah besar, orang minta supaya identitasnya dirahasiakan. Memberi harus kelihatan, menerima harus disembunyikan.

Inilah mentalitas yang tidak membebaskan. Orang yang selalu ingin tampak dermawan, sebenarnya hidupnya tergantung pada pandangan orang lain. Ia takut kehilangan citra. Sebaliknya, orang yang menyembunyikan berkat yang diterima juga hidup dalam ketakutan, takut berbagi, takut bertanggung jawab. Bukankah ini salah satu sumber mentalitas koruptif di masyarakat kita?

Hari ini Sabda Tuhan menantang kita untuk melihat lebih dalam: apa artinya memberi kepada dunia dan apa artinya memberi kepada Allah.

Yesus dan Dinarius Kaisar

Dalam Injil, orang Farisi dan Herodian—dua kelompok yang biasanya bermusuhan—bersatu untuk menjebak Yesus. Mereka bertanya soal pajak: bolehkah orang Yahudi membayar pajak kepada Kaisar? Pertanyaan licik ini sebenarnya untuk menjatuhkan Yesus. Tapi Yesus tahu isi hati mereka. Dengan meminta mereka menunjukkan mata uang dinarius, Yesus menyingkap kemunafikan mereka: ternyata mereka sendiri memakai uang penjajah itu.

Lalu Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Kata-kata ini sangat tajam. Yesus menegaskan bahwa kita boleh menjalankan kewajiban duniawi—pajak, aturan negara, tanggung jawab sosial—tetapi jangan sampai melupakan kewajiban yang lebih besar: menyerahkan hidup kita kepada Allah.

Kita Rajin untuk yang Kelihatan, Lalai untuk yang Tak Kelihatan

Kalau kita jujur, kita sering lebih disiplin terhadap hal-hal duniawi daripada terhadap Allah. Anak muda takut terlambat sekolah atau kuliah, pegawai takut terlambat masuk kantor, tapi kalau terlambat misa atau bahkan tidak hadir, dianggap biasa saja. Kita rela lembur demi pekerjaan, tapi enggan meluangkan waktu untuk doa bersama keluarga. Kita sangat teratur dalam membayar pajak atau cicilan, tetapi sering abai dalam mempersembahkan hati kita kepada Tuhan.

Kita rajin memberi yang kelihatan untuk “Kaisar”, tapi lalai memberi yang tak kelihatan untuk Allah.

Kebebasan Sejati dalam Allah

Bacaan pertama dari Kitab Sirakh mengingatkan: sebuah kota hanya akan tertib bila pemimpinnya arif dan bermartabat. Artinya, pemimpin yang sadar bahwa kuasa sejati ada pada Tuhan. Surat Rasul Petrus juga menegaskan: kita memang orang merdeka, tapi kemerdekaan itu jangan dipakai untuk menutupi kejahatan. Kita merdeka justru kalau kita hidup sebagai hamba Allah, menghormati semua orang, dan mengakui kuasa Allah dalam hidup kita.

Itulah kebebasan sejati: bukan bebas pamer, bukan bebas menumpuk citra, bukan bebas korupsi dalam sembunyi, tetapi bebas untuk mempersembahkan diri kita kepada Allah dengan tulus hati.

Panggilan untuk Kita

Saudara-saudari, hari ini Yesus menantang kita: apa yang sudah kita berikan kepada Allah?

Mungkin kita sudah taat membayar pajak, setia bekerja, peduli sosial. Itu semua baik. Tetapi yang lebih penting: apakah kita sungguh memberikan diri kita kepada Allah—dalam doa, dalam kehadiran setia di Ekaristi, dalam pelayanan kecil yang mungkin tidak pernah dilihat orang, dalam kesetiaan pada hidup keluarga dan panggilan?

Memberi kepada Allah sering kali tidak kelihatan. Tidak ada yang memotret kita saat berdoa di kamar. Tidak ada yang menulis nama kita saat kita menolong diam-diam. Tetapi itulah pemberian yang berharga di mata Allah.

Penutup

Mazmur berkata: “Bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan” (Mzm. 24:1). Hidup kita pun milik Tuhan. Maka mari kita belajar bebas memberi kepada Allah, meskipun tidak ada yang melihat, tidak ada yang bertepuk tangan. Karena di sanalah letak kemerdekaan kita yang sejati.

Semoga kita semua menjadi orang Kristiani yang berani memberi yang tak kelihatan: hati, iman, dan hidup kita, sepenuhnya kepada Allah.

Posting Komentar