Batas Pengampunan

Table of Contents



Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Setiap kita pasti pernah disakiti. Kadang oleh orang yang sangat dekat, bahkan keluarga sendiri. Luka itu bisa membekas bertahun-tahun. Kita mungkin berkata, “Saya sudah maafkan, tapi saya tidak lupa.” 

Petrus hari ini seperti mewakili perasaan kita. Ia bertanya kepada Yesus, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni? Sampai tujuh kali?” Menurut ukuran manusia, itu sudah luar biasa. Tapi Yesus berkata, “Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali!” — artinya: jangan hitung-hitung, mengampunilah selalu.

Yesus lalu bercerita tentang seorang hamba yang diampuni hutang 10 ribu talenta oleh tuannya. Jumlah yang mustahil terbayar, seperti dosa kita di hadapan Allah. Tapi hamba itu tidak mau mengampuni temannya yang berhutang 100 dinar kepadanya. Betapa ironis! Kita pun kadang begitu: minta ampun kepada Tuhan setiap hari, tapi sulit memberi ampun pada orang lain, bahkan untuk hal kecil.

Hari ini kita mengenang Santo Maksimilianus Kolbe, imam Fransiskan yang hidupnya menjadi Injil yang nyata. Di kamp konsentrasi Auschwitz, seorang tahanan akan dihukum mati kelaparan. Kolbe berdiri dan berkata kepada komandan Nazi, “Saya mau menggantikannya, karena dia punya istri dan anak-anak.” Ia masuk ke sel kematian, memimpin doa, menguatkan sesama tahanan, sampai akhirnya menyerahkan nyawanya. Di hadapan kebencian, Kolbe tidak membalas dengan dendam, tapi dengan kasih. Di hadapan ketidakadilan, ia memilih pengorbanan.

Saudara-saudari, kita mungkin tidak dipanggil untuk mati seperti Kolbe. Tapi kita dipanggil untuk hidup seperti dia — melepaskan dendam, mengampuni yang menyakiti, dan mengasihi sampai tuntas. Dunia kita sudah cukup gelap dengan kebencian. Kalau kita masih menyimpan marah dan dendam, kita ikut menambah gelapnya. Tapi kalau kita berani mengampuni, kita menyalakan cahaya kasih Allah di tengah dunia.

Hari ini, mari kita bertanya: siapa yang perlu saya ampuni? Luka mana yang perlu saya lepaskan? Ingatlah, kita diampuni hutang sebesar gunung — dosa yang tak terhitung. Maka mengampuni sesama adalah jalan kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Semoga teladan Santo Maksimilianus Kolbe menguatkan kita untuk berkata, “Kasih lebih kuat dari kebencian, dan pengampunan lebih berharga daripada dendam.

Posting Komentar