Bukan Tentang Jatuh Cinta, Melainkan Memilih Untuk Mencintai
Suatu kali saya berbincang dengan seorang bapak yang sudah menikah lebih dari 40 tahun. Wajahnya penuh keriput, jalannya sudah pelan, tapi matanya berbinar ketika bercerita tentang istrinya. Ia berkata, “Romo, kami tidak selalu bahagia… tapi kami selalu memilih untuk tetap bersama.”
Kata-kata itu sangat sederhana, tapi saya merasa seperti sedang mendengar Injil hidup. Inilah yang Yesus maksud hari ini: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Pernikahan bukan hanya tentang “jatuh cinta”, tapi tentang memilih untuk mencinta, setiap hari, apapun yang terjadi.
Kadang, cinta itu diuji berat. Ada masa ketika ekonomi sulit, ketika pasangan jatuh sakit, atau ketika sifat-sifat buruk yang dulu dianggap lucu mulai mengganggu. Saat itulah, setia bukan soal perasaan yang menggebu-gebu, tapi keputusan untuk tetap menggenggam tangan pasangan dan berkata, “Kita hadapi ini bersama.”
Demi Kerajaan Allah
Yesus juga berbicara tentang mereka yang memilih untuk tidak menikah demi Kerajaan Allah. Kesetiaan di jalan ini pun sama beratnya — karena itu berarti setiap hari berkata “ya” kepada Tuhan, walau kadang hati lelah, walau kadang terasa sendirian.
Saudara-saudari, kita hidup di zaman di mana komitmen sering dianggap rapuh. Dunia mengajarkan “Kalau tidak cocok, tinggalkan saja.” Tapi Yesus mengajarkan sesuatu yang lebih indah: “Setialah, seperti Bapa setia kepadamu.” Cinta sejati bukan tentang mencari yang sempurna, tapi tentang menjadi pribadi yang setia, apa pun kelemahan pasangan atau kesulitan hidup.
Mohon Rahmat Untuk Setia
Maka hari ini, mari kita minta rahmat untuk setia — dalam panggilan menikah maupun membiara. Karena kelak, yang akan kita persembahkan kepada Tuhan bukanlah kisah tanpa luka, tapi hati yang tetap mengasihi meski pernah terluka. Dan itu, saudara-saudari, adalah cinta yang tak pernah gagal.
Posting Komentar