Harapan di Tengah Keterbatasan dan Krisis
Pengantar
In a world that often feels restless and lost, the life of St. John Vianney reminds us that a sincere faith, genuine love, and deep prayer life are the path to holiness. He also taught us that worry must be replaced by complete trust in God, for the Lord faithfully provides for His people with tender care.
As we celebrate this Eucharist, let us ask for the grace to grow in love for prayer, to serve with humility, and to remain faithful to our own vocations. May the spirit and example of St. John Mary Vianney strengthen us to be true witnesses of Christ’s love wherever we are.
Renungan
Ketika kita memandang dunia saat ini, kita mudah sekali merasa gelisah dan khawatir. Krisis ekologis mengancam masa depan bumi kita. Perang dan kekerasan menjadi alat untuk menunjukkan kekuasaan, sementara isu-isu kemanusiaan sering kali diabaikan. Banyak orang lebih sibuk mengejar kekayaan dan kenikmatan dunia, daripada mencari kedamaian dan keadilan. Di tengah situasi yang demikian, kita bertanya-tanya: seperti apakah masa depan yang terbentang di hadapan kita?
Beberapa tahun lalu saya menemukan beberapa anak yang mengalami frustasi yang dalam, merasa gak ada guna, tak dicintai, tak diperhatikan dan merasa bahwa merasa lebih baik mati [dan saya menemukan dari penelitian yang mengejutkan saya pada waktu itu, karena setidaknya ratusan anak remaja di Indonesia yang bundir]
2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang tahun 2012 sampai 2023, ada 985 kasus yang terjadi pada remaja atau sekitar 46,63% dari keseluruhan jumlah.
Mengapa mereka sampai demikian? Ada banyak alasan, namun alasan utama adalah fokus hidup mereka pada ‘kesulitan’ [derita] dalam segala bentuknya. Mereka tak mampu melihat hal yang melampaui hal tersebut.
Hal ini juga terlihat dalam bacaan kita hari ini. Kitab Bilangan hari ini (Bil 11:4b-15) mengisahkan tentang bangsa Israel yang bersungut-sungut di padang gurun. Mereka merindukan daging dan makanan enak yang pernah mereka nikmati di Mesir, dan mereka mulai melupakan penderitaan perbudakan yang dulu mereka alami. Mereka lupa bahwa mereka sedang dibebaskan, sedang menuju Tanah Terjanji. Musa pun merasa terbebani karena harus memikul keluhan dan ketidakpuasan umat.
Keluhan musa ini, bisa jadi seperti keluhan kita, mengapa harus memperhatikan anak-anak yang sulit ini? Apakah aku orang tuanya?
Namun, yang luar biasa adalah: Allah tetap mendengarkan. Dia tidak menutup telinga-Nya terhadap umat-Nya yang mengeluh, bahkan ketika keluhan itu muncul dari hati yang tidak bersyukur. Allah menunjukkan bahwa Ia peduli, bahwa Ia hadir dan menopang umat-Nya.
Dalam Injil (Mat 14:13-21), Yesus menghadapi situasi yang hampir mustahil: memberi makan lebih dari lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Para murid cenderung berpikir praktis: "Suruh mereka pergi saja, biar mereka mengurus diri sendiri." Tapi Yesus mengajak mereka untuk tidak menghindar, melainkan menghadirkan solusi bersama dengan iman. Apa yang tampak sedikit dan tidak cukup, di tangan Tuhan menjadi berlimpah. Berkat Tuhan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dua bacaan ini mengajarkan kita satu hal yang sangat penting: di tengah keterbatasan, Tuhan hadir. Ketika kita merasa tidak mampu, ketika kita bingung melihat dunia ini, kita dipanggil bukan untuk menyerah, tetapi untuk membawa semuanya kepada Tuhan. Dalam ketidakcukupan kita, berkat Tuhan menjadi cukup.
Maka marilah kita tidak menyerah oleh keadaan dunia. Jangan biarkan kekhawatiran menguasai hati kita. Seperti Musa yang datang kepada Tuhan dengan segala beban, dan seperti para murid yang belajar mempercayakan sedikit yang mereka miliki kepada Yesus, kita pun diajak untuk percaya. Percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Percaya bahwa dalam setiap krisis, ada jalan. Dan percaya bahwa bersama Tuhan, selalu ada harapan untuk masa depan.
Yohanes Maria Vianney menganjurkan untuk berdoa dari pada berduka.
God commands you to pray, but he forbids you to worry. Ini adalah ungkapan paling terkenal dari St. Yohanes Vianney mengenai kekhawatiran dan doa. Ia mengajak kita untuk menaruh sepenuhnya kepercayaan pada Tuhan, bukan pada kecemasan. Ungkapan ini meneguhkan bahwa kekhawatiran bukan bagian dari kehendak Allah untuk kita.
Dalam banyak khotbahnya, ia menyampaikan bahwa doa merupakan sarana terbaik untuk mengatasi kegundahan hati. Salah satunya: “Troubles melt away before a fervent prayer like snow before the sun.” Artinya, keluhan dan kekhawatiran bisa lenyap ketika kita berdoa dengan sungguh-sungguh
Catechism on Prayer, Vianney menggambarkan: doa itu memperluas atau memperlebar hati kita yang sempit dan kecil.
“Your hearts are small, but prayer stretches them… When we pray properly, sorrows disappear like snow before the sun.”
Posting Komentar