Lebih dari Sekadar Hidup Nyaman
Setiap Orang Mendambakan Kehidupan Yang Baik
Setiap orang mendambakan kehidupan yang baik. Bagi banyak orang, hidup yang baik berarti hidup nyaman, aman secara finansial, dan serba stabil. Namun, pertanyaannya: apakah itu cukup untuk menjamin hidup yang sungguh bahagia?
Seorang Muda Yang Kaya
Injil hari ini menghadirkan seorang muda yang kaya. Hidupnya tampaknya serba cukup. Ia sudah menaati perintah-perintah Allah sejak kecil. Tetapi ia sadar ada sesuatu yang masih kurang. Maka ia datang kepada Yesus dan bertanya: “Guru, perbuatan baik apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Yesus mengajaknya melangkah lebih jauh: bukan sekadar menaati hukum, melainkan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah. “Juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku.”
Namun apa yang terjadi? Orang muda itu pergi dengan sedih, sebab hartanya banyak. Dengan kata lain, kenyamanan dan kekayaannya menjadi penghalang untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya.
Pengalaman Bangsa Israel
Pengalaman ini mirip dengan bangsa Israel yang kita kenang dalam Perjanjian Lama. Setelah mereka masuk ke Tanah Perjanjian, hidup mereka stabil dan nyaman. Tetapi justru dalam kenyamanan itu mereka jatuh: mereka menyembah berhala dan melupakan Tuhan. Kesetiaan mereka luntur karena rasa aman yang membuat mereka lupa diri.
Saudara-saudari terkasih, inilah tantangan kita juga. Dalam kesulitan, kita begitu rajin berdoa, begitu dekat dengan Tuhan. Tetapi ketika hidup mulai lancar, berkat mengalir, dan semuanya terasa aman, kita justru cenderung melupakan Dia. Seperti orang muda kaya itu, kita sering berat hati ketika harus memilih Tuhan di atas kenyamanan dan harta duniawi.
Bukan Kenyamanan Melainkan Menaruh Tuhan Diatas Segala
Yesus hari ini mengingatkan kita: hidup yang baik bukan pertama-tama soal kenyamanan, melainkan soal keberanian untuk menaruh Tuhan di atas segalanya. Kekayaan, keamanan, dan kenyamanan adalah baik, tetapi tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk mengikuti Kristus dengan sepenuh hati.
Maka, marilah kita selalu memeriksa hati: apakah ada “harta” yang mengikat kita, sehingga kita sulit bersyukur dan sulit mengikuti Tuhan sepenuhnya? Apakah kenyamanan hidup membuat kita semakin setia, atau justru semakin jauh dari Tuhan?
Semoga kita diberi rahmat untuk selalu bersyukur, baik dalam susah maupun senang, dan berani menaruh Tuhan di atas segala-galanya. Maka hidup kita sungguh akan menjadi hidup yang baik: bukan hanya nyaman di dunia ini, tetapi juga bahagia bersama Allah dalam hidup yang kekal.
Posting Komentar