Yusuf: Ketaatan yang Melahirkan Keselamatan
Refleksi Injil Adven tentang Santo Yusuf dan Misteri Natal
Menjelang perayaan Natal, Gereja mengajak kita merenungkan misteri inkarnasi Allah. Biasanya perhatian kita tertuju pada Maria, ibu Sang Juru Selamat. Namun Injil hari ini membawa kita mendekati Natal lewat sosok lain yang sering kali diam dan tersembunyi: Santo Yusuf. Justru dalam keheningannya, Allah berkarya besar bagi keselamatan dunia.
Yusuf dalam Injil: Orang Benar yang Bergulat dalam Iman
Injil Matius mengisahkan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Namun sebelum Yusuf memahami misteri ilahi ini, ia mengalami guncangan batin yang sangat manusiawi. Ia tahu bahwa Maria, tunangannya, sedang mengandung. Dalam konteks budaya dan hukum Yahudi saat itu, situasi ini merupakan skandal besar.
Secara hukum, Yusuf berhak menceraikan Maria secara terbuka. Namun Injil menyebut Yusuf sebagai “seorang yang benar”. Kebenaran Yusuf bukanlah kebenaran yang kaku dan menghukum, melainkan kebenaran yang penuh belas kasih. Ia memilih untuk menceraikan Maria secara diam-diam agar tidak mempermalukannya.
Di sini kita melihat iman yang sangat manusiawi. Yusuf belum memahami rencana Allah sepenuhnya, tetapi ia tidak bereaksi dengan kemarahan, dendam, atau ego. Ia memberi ruang bagi kasih dan martabat sesama.
Allah Berbicara dalam Keheningan
Allah tidak tinggal diam. Namun cara Allah berbicara sangat khas: bukan lewat tanda besar, bukan lewat keramaian, melainkan lewat mimpi. Malaikat Tuhan berkata:
“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu.”
Kalimat “jangan takut” menjadi kunci. Ketakutan sering membuat manusia menutup diri dari kehendak Allah. Yusuf juga takut—takut akan masa depan, takut pada omongan orang, takut pada ketidakpastian hidup. Namun ketika ia mendengarkan suara Tuhan, ketakutan itu berubah menjadi ketaatan.
Yang mengagumkan, Injil tidak mencatat satu kata pun ucapan Yusuf. Tidak ada perdebatan, tidak ada tawar-menawar, tidak ada tuntutan penjelasan panjang. Injil hanya berkata:
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu.”
Inilah iman yang matang: iman yang bertindak.
Ketaatan Yusuf: Mengubah Seluruh Arah Hidup
Dengan satu keputusan taat, Yusuf mengubah seluruh rencana hidupnya. Ia menerima Maria, menerima Anak yang bukan berasal dari dirinya, dan menerima peran sebagai penjaga Sang Juru Selamat. Yusuf tidak hanya berkata “ya” kepada Allah, tetapi membuktikannya dalam tindakan nyata.
Nama Yesus berarti Allah menyelamatkan. Namun keselamatan itu masuk ke dunia melalui ketaatan sederhana seorang tukang kayu dari Nazaret. Tanpa Yusuf, Maria akan menghadapi semuanya sendirian. Tanpa Yusuf, Yesus tidak memiliki perlindungan manusiawi. Allah memilih menyelamatkan dunia lewat iman orang kecil dan sederhana.
Relevansi bagi Hidup Orang Beriman Hari Ini
Refleksi tentang Santo Yusuf sangat relevan bagi hidup kita, khususnya di masa Adven. Kita diajak bertanya pada diri sendiri:
-
Berapa kali kita ingin memahami semuanya terlebih dahulu sebelum taat kepada Tuhan?
-
Berapa kali kita menunda melakukan kebaikan karena takut risiko?
-
Berapa kali kita memilih “jalan aman” daripada kehendak Allah?
Yusuf mengajarkan bahwa ketaatan tidak selalu lahir dari pengertian penuh, tetapi dari kepercayaan penuh. Allah tidak meminta Yusuf memahami misteri inkarnasi secara teologis. Allah hanya meminta satu hal: percaya dan melangkah.
Spiritualitas Adven ala Santo Yusuf
Di masa Adven ini, Gereja mengajak kita belajar dari Santo Yusuf tiga sikap dasar iman:
-
Diam yang mendengarkan – memberi ruang bagi suara Tuhan
-
Hati yang lembut – memilih kasih daripada penghakiman
-
Ketaatan yang nyata – iman yang diwujudkan dalam tindakan
Mungkin kita juga sedang berada dalam situasi hidup yang tidak kita mengerti. Mungkin rencana kita tidak berjalan seperti yang diharapkan. Injil hari ini memberi harapan: Allah tetap bekerja, bahkan di tengah ketidakjelasan.
Penutup: Iman yang Dihidupi, Bukan Sekadar Diucapkan
Menjelang Natal, Santo Yusuf mengundang kita untuk berani percaya seperti dirinya—bukan dengan banyak kata, tetapi dengan hidup yang taat. Semoga kita mampu berkata dalam keseharian kita:
“Tuhan, aku percaya. Aku akan melakukan kehendak-Mu.”
Amin.

Posting Komentar