Dibidik Kasih, Disembuhkan oleh Belas Kasihan
Injil hari ini memperkenalkan kita pada orang yang menderita kusta, seorang yang tersingkir, yang datang kepada Yesus dengan doa sederhana dan penuh harap:
“Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Yesus pun tergerak oleh belas kasihan — Ia menyentuh orang itu, menyembuhkan luka yang membuatnya terpisah dari komunitas dan ibadah (Mk 1:40–42).
Kisah Injil ini mengajak kita melangkah lebih jauh: bukan sekadar melihat penyakit atau penderitaan, tetapi hadir di tengah mereka yang mengalami luka batin, luka sosial, atau trauma.
Dalam beberapa hari ini, banyak orang Indonesia bercakap-cakap tentang pengalaman pribadi seorang figur publik, Aurelie Moeremans, melalui memoarnya yang viral berjudul Broken Strings. Dalam buku itu ia membuka luka masa lalu — cerita tentang hubungan yang manipulatif dan trauma di usia muda — demi membagikan pengalaman dan meningkatkan kesadaran publik akan bahaya grooming serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.
Kisah Aurelie yang terasa “viral” bukan kita bicarakan sebagai gosip atau hiburan semata, tetapi sebagai sebuah cermin realitas: betapa banyak dari kita – mungkin tanpa disadari – menyimpan luka, pengasingan, atau pengalaman tidak adil yang membentuk cara kita melihat diri sendiri dan dunia. Orang kusta dalam Injil juga mengalami pengucilan. Namun ia berani datang kepada Yesus, menerima sentuhan kasih yang memulihkan.
Yesus tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga melakukan reintegrasi — mengembalikan orang itu ke dalam kehidupan komunitas dan ibadah. Ia menyentuh yang terkucilkan. Rasul kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama: mendekat, bukan menjauhi; menyembuhkan, bukan menghakimi; dan menjadi saksi belas kasih Tuhan dalam dunia yang sering menyamakan luka dengan aib.
Kisah Aurelie mengingatkan kita akan pentingnya berani berbicara tentang luka, bukan untuk mencari perhatian semata, tetapi untuk berbagi pengharapan dan memutus rantai penderitaan yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang. Yesus datang untuk membawa terang ke dalam kegelapan batin, membangkitkan martabat yang diinjak-injak, dan menunjukkan bahwa tidak ada luka yang terlalu dalam bagi belas kasih-Nya.
Marilah kita dalam doa dan hidup kita hari ini, menjadi seperti Yesus: hadir di tengah yang tersisih dan membawa harapan. Biarkan pengalaman setiap orang, termasuk mereka yang berani membuka luka kehidupan mereka kepada publik, menjadi panggilan bagi kita untuk mendekat dengan hati yang peka dan tangan yang terulur, bukan dengan komentar yang menghancurkan tetapi dengan kasih yang menyembuhkan.

Posting Komentar