Hati yang Mengeras atau Tangan yang Disembuhkan?

Daftar Isi

 


Dalam Injil hari ini, Yesus kembali berhadapan dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka mengamati Yesus dengan penuh kecurigaan, bukan untuk belajar, melainkan untuk mencari kesalahan. Di hadapan mereka ada seorang yang tangannya mati sebelah. Tetapi perhatian mereka bukan pada penderitaan orang itu, melainkan pada aturan Sabat.

Diam dan Keras Hati

Yesus lalu mengajukan pertanyaan yang sangat tajam: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?”

Namun Injil mengatakan: mereka diam. Diam yang mematikan. Diam yang lahir dari hati yang mengeras.

Yesus tidak hanya menyembuhkan tangan yang mati sebelah, tetapi sekaligus menyingkapkan penyakit yang lebih berbahaya: hati yang tidak lagi mampu berbelas kasih. Injil mencatat dengan sangat kuat: Yesus berdukacita karena kedegilan hati mereka.

Tangan Mati atau Tanpa Belas Kasih

Tangan yang mati sebelah itu bisa menjadi gambaran hidup manusia yang terhambat: tidak mampu bekerja, memberi, atau menjangkau sesama. Tetapi dalam Injil ini, yang paling sakit justru bukan tangan itu, melainkan hati yang kehilangan belas kasih.

Kehendak Tuhan?

Sering kali kita pun bisa jatuh dalam sikap yang sama. Kita taat aturan, rajin ibadah, setia tradisi, tetapi hati kita bisa menjadi kaku: cepat menghakimi, lambat menolong, sibuk menilai benar-salah orang lain, tetapi lupa bertanya: “Apa yang dikehendaki Tuhan saat ini?”

Yesus menunjukkan bahwa hukum tertinggi adalah kasih. Sabat diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat. Aturan ada untuk melayani kehidupan, bukan mematikan kehidupan.

Agnes Mempunyai Satu Hati Hanya untuk Tuhan

Hari ini Gereja juga memperingati Santa Agnes, seorang gadis muda yang dengan hati yang murni dan berani memilih setia kepada Kristus sampai mati. Dalam dirinya kita melihat kebalikan dari kedegilan hati: hati yang lembut, bebas, dan total bagi Tuhan. Usianya muda, tetapi imannya matang. Tubuhnya lemah, tetapi hatinya kuat.

Yesus hari ini mengajak kita untuk membiarkan Dia menyentuh dua hal dalam diri kita: bukan hanya tangan yang lemah, tetapi juga hati yang mungkin mengeras.

Ia ingin kita menjadi orang beriman yang bukan hanya benar secara aturan, tetapi juga benar dalam kasih; bukan hanya setia secara lahiriah, tetapi hidup dalam belas kasih yang nyata.

Semoga Ekaristi ini melembutkan hati kita, membuka mata kita terhadap penderitaan sesama, dan menjadikan kita murid-murid Kristus yang berani memilih berbuat baik, kapan pun dan di mana pun.


Posting Komentar