Hati Yang Siap Menerima Sabda

Daftar Isi

Mrk 4:1–20

Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang penabur. Benihnya sama—baik dan penuh kehidupan—tetapi hasilnya berbeda-beda karena tanah tempat benih itu jatuh tidak sama. Yesus mengingatkan kita bahwa persoalan iman bukan pertama-tama pada Sabda Allah, melainkan pada kesiapan hati manusia.

Ada hati seperti pinggir jalan: Sabda didengar, tetapi segera hilang. Ada hati seperti tanah berbatu: diterima dengan semangat, tetapi tidak berakar. Ada pula yang seperti semak duri: iman ada, tetapi tercekik oleh kekhawatiran, ambisi, dan kesibukan hidup. Namun Yesus juga berbicara tentang tanah yang baik—hati yang terbuka, setia, dan tekun, sehingga Sabda berbuah berlipat ganda.

Hari ini Gereja memperingati Santo Thomas Aquinas, imam dan pujangga Gereja. Ia dikenal karena kecerdasannya, tetapi yang lebih penting adalah kerendahan hatinya di hadapan Allah. Ia pernah berkata bahwa ia belajar lebih banyak dari doa di hadapan Salib daripada dari semua buku yang pernah ia baca. Sebuah pengingat kuat bahwa iman yang berbuah lahir dari hati yang mau dibentuk, bukan hanya dari pikiran yang cerdas.

Kita mungkin rajin mendengar Sabda—di gereja, di komunitas, bahkan lewat media sosial. Namun pertanyaannya sederhana dan jujur: apakah Sabda itu sungguh mengubah cara kita hidup? Apakah ia membentuk cara kita berbicara, melayani, dan memperlakukan sesama?

Yesus tidak menghakimi tanah mana pun. Ia mengundang kita untuk mengolah tanah hati: membersihkan yang keras, mencabut duri-duri, dan memberi ruang bagi Sabda untuk berakar. Ketika Sabda Allah diterima dengan iman dan kesetiaan, hidup kita pun mulai menghasilkan buah: kesabaran, kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kasih yang nyata.

Hari ini, mari bertanya pada diri sendiri:

Tanah apakah hatiku hari ini?

Dan dengan rendah hati, mari memohon rahmat agar hati kita menjadi tanah yang baik—tempat Sabda Allah hidup dan berbuah bagi banyak orang.



Posting Komentar