Mendengar Dengan Hati yang Disembuhkan
Markus 7:31–37
Salah satu kebutuhan terdalam manusia adalah didengar dan mendengar. Kita ingin suara kita diperhatikan, dan kita juga rindu mendengar suara yang memberi makna: suara orang yang kita kasihi, suara hati nurani, dan terutama suara Tuhan.
Namun, Injil dan pengalaman hidup mengajarkan kita bahwa sering kali kita mengalami ketulian rohani. Kita mendengar banyak suara—media, opini, kritik, bahkan gosip—tetapi tidak sungguh mendengar Tuhan. Kita mendengar kata-kata orang lain, tetapi tidak sungguh mendengar jeritan hati mereka.
Yesus datang sebagai Penyembuh pendengaran manusia. Ia bukan hanya menyembuhkan telinga fisik, tetapi membuka telinga batin. Dalam Injil, ketika Yesus berkata, “Effata – terbukalah!”, itu bukan hanya mukjizat fisik, tetapi simbol pembukaan hati manusia kepada Allah dan sesama.
Berapa banyak relasi rusak karena kita tidak mendengar dengan hati?
Berapa banyak komunitas religius kehilangan kehangatan karena kita mendengar dengan telinga, tetapi tidak dengan empati?
Berapa banyak anak muda kehilangan arah karena tidak ada orang dewasa yang benar-benar mendengarkan mereka?
Dalam spiritualitas Don Bosco, mendengarkan adalah tindakan pastoral yang mendasar. Don Bosco sering berkata bahwa anak muda harus merasa dicintai, bukan hanya dicintai. Dan cinta itu dimulai dengan mendengarkan.
Yesus hari ini mengajak kita pada tiga penyembuhan:
Pertama, penyembuhan telinga rohani.
Apakah kita masih peka terhadap Sabda Tuhan, atau hati kita sudah tumpul oleh rutinitas dan kesibukan?
Kedua, penyembuhan lidah kita.
Orang yang disembuhkan Yesus bukan hanya mendengar, tetapi juga dapat berbicara dengan benar. Lidah kita dipanggil untuk memberkati, bukan melukai; untuk menghibur, bukan menghakimi.
Ketiga, penyembuhan relasi.
Ketika kita sungguh mendengar, relasi dipulihkan. Komunitas menjadi tempat yang aman. Gereja menjadi rumah.
Dalam dunia yang bising, menjadi murid Kristus berarti menjadi orang yang sungguh mendengar: mendengar Tuhan dalam doa, mendengar sesama dalam pelayanan, dan mendengar diri sendiri dalam kejujuran batin.
Marilah kita berdoa hari ini:
“Tuhan, bukalah telinga kami, agar kami mendengar kehendak-Mu. Bukalah hati kami, agar kami mendengar jeritan sesama. Bukalah lidah kami, agar kami berbicara dengan kasih.”

Posting Komentar