Menjalani Pertobatan Dengan Hati
Hari ini kita memasuki masa Prapaskah dengan tanda abu di dahi. Abu mengingatkan kita bahwa hidup ini rapuh, sementara, dan bahwa kita dipanggil untuk kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Dan Injil hari ini memberi arah yang sangat jelas: bagaimana kita menjalani pertobatan itu.
Yesus berbicara tentang tiga praktik rohani utama: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Menariknya, fokus Yesus bukan pertama-tama pada tindakan itu sendiri, tetapi pada hati di balik tindakan. Ia berulang kali berkata: jangan lakukan semuanya supaya dilihat orang. Jangan mencari pujian manusia. Lakukanlah dalam keheningan, karena Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya.
Di sini Yesus mengajak kita masuk ke ruang batin. Dalam dunia yang sering menilai segala sesuatu dari tampilan luar—berapa banyak yang kita lakukan, seberapa terlihat kesalehan kita—Yesus justru mengundang kita kembali pada relasi pribadi dengan Allah. Pertobatan sejati tidak dimulai dari perubahan penampilan, tetapi dari perubahan hati.
Pertama, tentang sedekah. Memberi bukan sekadar transfer materi, tetapi tanda hati yang terbuka. Sedekah yang sejati lahir dari belas kasih, bukan dari keinginan untuk diakui. Kadang yang paling berharga bukan jumlah yang kita berikan, melainkan perhatian, waktu, dan kehadiran kita bagi mereka yang membutuhkan.
Kedua, tentang doa. Yesus berkata, masuklah ke kamar, tutuplah pintu. Ini bukan hanya soal tempat fisik, tetapi ajakan untuk menemukan ruang hening di tengah hiruk-pikuk hidup. Dalam keheningan itulah kita belajar mendengar suara Tuhan—bukan suara ego kita sendiri. Prapaskah adalah kesempatan memperdalam doa yang lebih jujur, lebih sederhana, lebih personal.
Ketiga, tentang puasa. Puasa bukan sekadar menahan makanan. Puasa adalah latihan kebebasan batin: belajar mengatakan “tidak” pada hal-hal yang menguasai kita agar kita bisa mengatakan “ya” kepada Tuhan. Kita berpuasa bukan supaya tampak saleh, tetapi supaya hati menjadi lebih peka terhadap sesama dan lebih lapar akan Allah.
Abu yang kita terima hari ini akan hilang dalam beberapa jam. Namun pesannya diharapkan tinggal lebih lama: hidup kita tidak untuk dipamerkan, melainkan dipersembahkan. Tuhan melihat apa yang tersembunyi—air mata yang tidak diketahui orang lain, usaha kecil untuk berubah, doa yang sederhana tetapi tulus.
Semoga Injil hari ini menuntun kita pada pertobatan yang hening namun mendalam. Bukan pertobatan yang gaduh, tetapi pertobatan yang sungguh mengubah hati—karena di situlah Bapa bekerja..
Rabu Abu bukanlah hari ketika Tuhan menuntut kita menjadi sempurna. Ini adalah hari ketika Tuhan memanggil kita pulang — seperti seorang Bapa yang sabar menunggu anak-anak-Nya kembali.
Mungkin langkah kita kecil. Mungkin pertobatan kita masih setengah hati. Tetapi Tuhan tidak menghitung besar kecilnya langkah itu; Ia melihat arah hati kita.
Dalam keheningan hati, ingatlah kata Injil:
En tō kryptō, ho Theos se blepei kai se agapāi —
di tempat yang tersembunyi, Allah melihat engkau dan mengasihi engkau.
Maka marilah kita menjalani masa Prapaskah ini dengan hati anak-anak Don Bosco: sederhana, gembira, dan penuh harapan. Karena kekudusan tidak lahir dari hal-hal besar, tetapi dari kasih yang kecil namun setia — dilakukan setiap hari, di hadapan Tuhan yang diam-diam bekerja dalam hidup kita.
Dan ketika abu ini perlahan hilang dari dahi kita, semoga kasih Tuhan justru semakin tertulis di dalam hati kita.

Posting Komentar