Percaya di Tengah Ketidakmengertian

Daftar Isi

Sabtu Minggu Biasa XXV



Ada pengalaman yang sering kita alami: kita sudah mempunyai gambaran tentang bagaimana sesuatu seharusnya terjadi. Ketika kenyataan ternyata berbeda, kita sulit menerimanya. Kita berpikir, “Bukankah seharusnya begini?” Para murid Yesus juga mengalami hal yang sama. Mereka melihat Yesus melakukan karya-karya besar. Orang banyak kagum kepada-Nya. Mereka melihat Yesus sebagai Mesias yang hebat. Tetapi tiba-tiba Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Mereka tidak mengerti. Bahkan dikatakan, “mereka tidak memahami perkataan itu.” Mereka memiliki gambaran tentang Mesias yang mulia, kuat dan menang. Mereka belum mampu memahami Mesias yang justru berjalan menuju salib.

Di sinilah kita menemukan sesuatu yang sangat manusiawi. Kita sering mudah menerima Tuhan ketika Tuhan memberikan apa yang kita harapkan. Kita bersyukur ketika pekerjaan lancar, kesehatan baik, rencana berhasil, komunitas harmonis. Tetapi ketika datang kegagalan, kehilangan, konflik atau penderitaan, kita bertanya: “Tuhan, mengapa?”

Padahal salib bukan berarti Tuhan meninggalkan kita. Salib justru menunjukkan bahwa kasih Allah tidak berhenti ketika kehidupan menjadi sulit. Yesus tidak memilih jalan yang mudah. Ia memilih tetap mengasihi sampai akhir, bahkan ketika kasih itu membawa-Nya kepada penderitaan.

Menarik bahwa para murid sebenarnya mendengar, tetapi belum memahami. Kadang-kadang kita juga demikian. Kita sudah sering mendengar Injil, mengikuti Misa, berdoa, membaca Kitab Suci. Tetapi ada saat-saat tertentu ketika Sabda Tuhan baru sungguh kita mengerti setelah kita mengalami sendiri kehidupan.

Karena itu, ketika menghadapi sesuatu yang tidak kita mengerti, jangan cepat meninggalkan Tuhan. Mungkin kita belum memahami rencana-Nya. Tetapi kita dapat belajar mengatakan: “Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya tetap percaya.”

Dalam refleksi Lectio Divina hari ini, Yesus sebagai “Anak Manusia” bukan hanya menunjukkan kemanusiaan-Nya, tetapi juga jalan untuk membangun kehidupan yang semakin manusiawi: segala sesuatu yang merendahkan, memperbudak dan menghancurkan manusia bertentangan dengan kehendak Allah.

Maka pertanyaan untuk kita hari ini bukan hanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan salib dalam hidup saya?” Tetapi juga: “Melalui salib yang saya alami, apakah saya semakin manusiawi?” Apakah saya menjadi lebih sabar? Lebih berbelas kasih? Lebih mampu memahami orang lain? Lebih dekat dengan Tuhan?

Saudara-saudari, kita mungkin tidak selalu mengerti jalan Tuhan, tetapi kita selalu dapat memilih untuk tetap berjalan bersama-Nya. Sebab jalan salib yang diterima dalam iman bukanlah jalan menuju kehancuran, melainkan jalan menuju kehidupan.

Posting Komentar