Berani Berubah

Daftar Isi

 Metanoeō — Berani Berubah




Senin, 12 Oktober 2026
Bacaan Injil: Lukas 11:29–32

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Ada perbedaan antara orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan orang yang membiarkan Sabda Tuhan mengubah hidupnya. Kita bisa mengikuti Misa setiap hari, membaca Kitab Suci, bahkan hafal banyak ayat, tetapi masih sulit mengampuni, mudah marah, dan mempertahankan kesalahan kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata bahwa penduduk Niniwe bertobat ketika mendengarkan pewartaan Yunus. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah metenoēsan, dari kata kerja metanoeō, yang berarti bertobat atau mengubah sikap batin dan arah hidup.

Pertobatan bukan sekadar menyesal, melainkan berani mengubah hidup.

Lihatlah contoh Zakheus dalam Lukas 19. Setelah berjumpa dengan Yesus, ia tidak hanya berkata, “Saya menyesal.” Ia berjanji memberikan setengah hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah diperasnya.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah cara Zakheus memperlakukan sesama. Pertobatannya menjadi nyata dalam tindakannya.

Contoh lain adalah Santo Petrus. Ia pernah menyangkal Yesus tiga kali. Namun, kegagalannya tidak menjadi akhir hidupnya. Setelah dipulihkan oleh Yesus, ia kembali menerima perutusan untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Dari kedua kisah ini kita belajar bahwa pertobatan tidak berarti kita tidak pernah jatuh. Pertobatan berarti kita bersedia bangkit, menerima rahmat Allah, dan mengambil langkah baru.

Saudara-saudari, mungkin kita sering meminta tanda dari Tuhan: agar masalah selesai, doa dikabulkan, atau keadaan berubah. Namun, melalui Injil hari ini, Yesus mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: Apakah kita bersedia berubah setelah mendengarkan Sabda-Nya?

Mungkin perubahan itu sederhana: meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, mengampuni orang yang melukai kita, berhenti bergosip, atau lebih peduli kepada orang yang membutuhkan.

Jangan menunggu mukjizat besar untuk mulai bertobat. Jadikanlah perubahan hidup kita sebagai tanda bahwa Sabda Tuhan sungguh bekerja dalam diri kita.

Marilah kita berdoa dalam hati:

“Tuhan, jangan biarkan Sabda-Mu hanya berhenti di telingaku. Ubahlah hatiku, luruskanlah jalanku, dan ajarlah aku mengasihi seperti Engkau mengasihiku.”

Amin.

Posting Komentar