Jangan Hanya Saleh di Luar, Berubahlah dari Dalam
Peringatan Wajib Santa Teresia dari Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Ada sebuah kenyataan yang sering kita alami: seseorang bisa sangat rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi belum tentu berbuat baik. Ia bisa menasihati orang lain supaya sabar, tetapi mudah marah ketika dirinya dikritik. Ia bisa berbicara tentang pengampunan, tetapi bertahun-tahun menyimpan dendam. Bahkan, seseorang bisa sangat aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi sulit mengasihi orang yang tinggal serumah dengannya.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena kita kadang-kadang lebih sibuk memperbaiki penampilan daripada membiarkan hati kita diperbarui.
Inilah persoalan yang disingkapkan Yesus dalam Injil hari ini.
1. Jangan membangun makam bagi nabi, tetapi menolak suara kenabiannya
Yesus menegur ahli-ahli Taurat yang membangun makam bagi para nabi, padahal nenek moyang mereka telah membunuh para nabi itu. Mereka menghormati para nabi yang sudah meninggal, tetapi menolak kebenaran yang sedang berbicara kepada mereka.
Ironis sekali! Mereka menghormati kebenaran ketika kebenaran itu sudah tidak lagi mengganggu mereka. Tetapi ketika kebenaran hadir di depan mata dan menuntut perubahan, mereka justru menolaknya.
Saudara-saudari, bukankah kita pun kadang-kadang demikian?
Kita senang membaca kisah para kudus, tetapi belum tentu mau meneladaninya. Kita menghormati orang-orang suci yang telah meninggal, tetapi kadang-kadang mengabaikan nasihat orang baik yang masih hidup bersama kita. Kita menyukai homili yang menyentuh hati, tetapi ketika homili itu menyingkap kesalahan kita sendiri, kita berpikir, “Sayang sekali, orang yang seharusnya mendengar homili ini tidak datang ke gereja!”
Kita mudah menemukan orang yang perlu bertobat, tetapi lebih sulit menemukan kesalahan dalam diri sendiri.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah: Siapa yang perlu mendengarkan sabda Tuhan hari ini? Melainkan: Bagian mana dari hidup saya yang perlu diubah oleh sabda Tuhan?
2. Kunci pengetahuan yang tidak membuka pintu
Yesus melanjutkan teguran-Nya dengan mengatakan kepada ahli-ahli Taurat: “Kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk dan orang yang berusaha untuk masuk kamu halang-halangi.”
Kunci seharusnya membuka pintu. Namun, kunci itu menjadi tidak berguna ketika hanya dipegang, dipamerkan, atau bahkan dipakai untuk menghalangi orang lain.
Demikian juga pengetahuan agama. Kita bisa mengetahui banyak doa, menghafal banyak ayat Kitab Suci, memahami aturan Gereja, bahkan mampu menjelaskan ajaran iman dengan sangat baik. Semua itu penting. Tetapi pengetahuan tentang Allah seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin mengasihi sesama.
Jika pengetahuan agama membuat kita semakin sombong, mudah menghakimi, dan merasa diri paling benar, berarti ada sesuatu yang belum beres dalam hidup rohani kita.
Ukuran kedewasaan iman bukan hanya seberapa banyak kita mengetahui tentang Allah, melainkan juga seberapa jauh pengetahuan itu mengubah cara kita memperlakukan orang lain.
Apakah orang yang bertemu dengan kita merasa dikuatkan atau justru direndahkan? Apakah anggota keluarga merasa diterima atau terus-menerus dihakimi? Apakah orang yang melakukan kesalahan menemukan jalan untuk memperbaiki diri atau justru merasa tidak mempunyai harapan lagi?
Iman yang sejati tidak hanya menunjukkan jalan menuju Allah. Iman juga membantu orang lain berani melangkah menuju-Nya.
3. Santa Teresia: menemukan Allah di kedalaman hati
Hari ini kita memperingati Santa Teresia dari Avila, seorang mistikus dan Pujangga Gereja yang mengajarkan pentingnya doa batin.
Bagi Santa Teresia, doa bukan sekadar mengucapkan kata-kata di hadapan Allah. Doa adalah persahabatan dengan Dia yang kita tahu mengasihi kita.
Di sinilah kita menemukan hubungan yang indah antara Injil hari ini dan kehidupan Santa Teresia. Yesus mengingatkan kita agar tidak berhenti pada penampilan luar, sedangkan Santa Teresia mengajak kita masuk ke kedalaman hati, tempat kita berjumpa dengan Allah yang hidup.
Doa sejati tidak membuat kita melarikan diri dari kenyataan hidup. Sebaliknya, doa menolong kita melihat kenyataan dengan lebih jujur. Di hadapan Allah, kita tidak perlu berpura-pura menjadi sempurna. Kita dapat mengakui kelemahan, memohon pengampunan, dan menerima kekuatan untuk berubah.
Santa Teresia mengingatkan kita melalui ungkapannya yang terkenal: Solo Dios basta — Allah saja cukup.
Jika Allah sungguh menjadi pusat hidup kita, kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa diri kita paling benar. Kita tidak perlu menjatuhkan orang lain agar terlihat lebih baik. Kita tidak perlu menutupi kelemahan dengan kesalehan yang hanya tampak di luar.
Kita cukup datang kepada Allah dengan hati yang jujur, lalu membiarkan kasih-Nya membentuk hidup kita.
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini, marilah kita membawa pulang satu pertanyaan sederhana: Apakah kehidupan iman saya sungguh membuat saya menjadi pribadi yang lebih mengasihi?
Jangan sampai kita rajin berdoa, tetapi tidak mau berdamai. Jangan sampai kita pandai berbicara tentang kasih, tetapi pelit memberikan perhatian. Jangan sampai kita menunjukkan jalan kepada orang lain, sementara kita sendiri menolak berjalan di jalan itu.
Mulailah dari tindakan yang konkret. Jika kita selama ini keras terhadap seseorang, cobalah berbicara dengan lebih lembut. Jika kita menyimpan dendam, mulailah mengambil langkah menuju pengampunan. Jika kita terlalu cepat menghakimi, belajarlah mendengarkan sebelum menjatuhkan penilaian.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak hanya melihat makam indah yang kita bangun untuk mengenang para kudus. Tuhan melihat apakah semangat kekudusan itu sungguh hidup dalam diri kita.
Jangan hanya menghormati orang-orang kudus. Belajarlah hidup seperti mereka. Jangan hanya mendengarkan sabda Tuhan. Biarkan sabda itu mengubah hati kita. Dan jangan hanya memegang kunci menuju Allah. Bukalah pintu hati kita sendiri, lalu bantulah sesama menemukan pintu yang sama.
Santa Teresia dari Yesus, doakanlah kita agar berani masuk ke kedalaman hati, menemukan Allah dalam doa, dan mewujudkan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Amin.
Posting Komentar