Jangan Sampai Pelita Iman Menyala, tetapi Hati Kita Tertutup

Daftar Isi

 Homili Selasa, 20 Oktober 2026



Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pernahkah kita menunggu seseorang yang sangat kita cintai pulang ke rumah? Mungkin seorang anak yang merantau, seorang anggota keluarga yang lama tidak bertemu, atau seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh. Kita menunggu dengan penuh harapan. Sesekali kita melihat jam, mendengarkan suara kendaraan, bahkan mungkin berkali-kali memeriksa telepon. Mengapa? Karena orang yang kita tunggu itu penting bagi kita. Kalau seseorang tidak berarti bagi kita, biasanya kita tidak terlalu peduli kapan ia datang.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Ia mengajak kita menjadi seperti hamba yang menantikan tuannya pulang. Pesannya bukan sekadar supaya kita siap menghadapi akhir zaman. Yesus mengajak kita menjalani hidup dengan hati yang selalu terbuka bagi kedatangan Tuhan.

Tetapi di sinilah pertanyaan pentingnya: Apakah kita sungguh menantikan Tuhan, atau kita hanya terbiasa berbicara tentang Tuhan?

Kita bisa setiap hari berdoa, menghadiri Misa, mengenakan tanda-tanda keagamaan, bahkan aktif dalam pelayanan Gereja. Namun, apakah hati kita sungguh siap ketika Tuhan datang menjumpai kita? Sebab Tuhan tidak selalu datang dengan cara yang kita bayangkan.

Ia bisa datang melalui seseorang yang membutuhkan pertolongan kita. Ia bisa mengetuk pintu hati kita melalui pasangan yang meminta untuk didengarkan, anak yang membutuhkan perhatian, rekan kerja yang melakukan kesalahan, atau orang yang berbeda pendapat dengan kita. Kadang-kadang, kita berdoa agar Tuhan hadir dalam hidup kita, tetapi ketika Ia datang dalam diri orang yang merepotkan kita, justru kita menutup pintu.

Kita ingin bertemu Tuhan dalam doa, tetapi enggan bertemu Dia dalam orang yang sulit kita kasihi. Kita ingin menerima pengampunan Tuhan, tetapi sulit mengampuni orang lain. Kita ingin Tuhan sabar terhadap kelemahan kita, tetapi kita cepat kehilangan kesabaran terhadap kelemahan sesama.

Saudara-saudari, pelita iman bukan hanya menyala ketika kita berdoa; pelita iman harus menerangi cara kita memperlakukan orang lain.

Bacaan pertama dari Surat kepada Jemaat di Efesus memberi kita dasar yang kuat. Santo Paulus berkata bahwa Kristuslah damai sejahtera kita. Ia merobohkan tembok pemisah dan mempersatukan mereka yang sebelumnya berjauhan. Melalui Kristus, kita bukan lagi orang asing, melainkan anggota keluarga Allah.

Perhatikanlah: Kristus tidak hanya mendamaikan manusia dengan Allah, tetapi juga membuka jalan agar manusia berdamai satu sama lain. Karena itu, iman kita tidak dapat dipisahkan dari cara kita membangun hubungan.

Kadang-kadang tembok pemisah itu bukan tembok batu, melainkan kesombongan, prasangka, luka lama, iri hati, atau keinginan untuk selalu menang. Dalam keluarga, tembok itu bisa berupa sikap diam berhari-hari karena tersinggung. Dalam komunitas, tembok itu bisa berupa kelompok-kelompok yang saling mencurigai. Dalam masyarakat, tembok itu bisa tumbuh ketika kita menilai seseorang hanya berdasarkan asal-usul, kedudukan, pilihan, atau perbedaan pendapatnya.

Kita mungkin berkata, “Saya tetap beriman kepada Tuhan.” Tetapi jika iman itu tidak membuat kita semakin mampu mendengarkan, mengampuni, dan membangun perdamaian, kita perlu bertanya apakah pelita kita sungguh menerangi jalan.

Mazmur hari ini menyampaikan gambaran yang indah: kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Itulah kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Damai bukan sekadar tidak bertengkar. Damai berarti berani mencari kebenaran tanpa merendahkan orang lain, memperjuangkan keadilan tanpa membalas kebencian, dan mengakui kesalahan tanpa kehilangan martabat.

Ada satu hal lagi yang sangat menghibur dalam Injil. Yesus mengatakan bahwa ketika tuan itu pulang dan mendapati para hambanya berjaga-jaga, justru tuan itu akan mengikat pinggangnya, mempersilakan mereka duduk makan, lalu melayani mereka. Sungguh mengejutkan! Tuan yang seharusnya dilayani justru melayani para hambanya.

Inilah wajah Allah yang diwartakan Yesus: Allah yang tidak datang semata-mata untuk menuntut, melainkan juga untuk memberikan diri-Nya. Kita melihatnya secara nyata ketika Yesus membasuh kaki para murid dan ketika Ia menyerahkan hidup-Nya di salib.

Maka berjaga-jaga bukanlah hidup dalam ketakutan bahwa Tuhan sewaktu-waktu akan menghukum kita. Berjaga-jaga berarti hidup dalam kasih, karena kita percaya bahwa Tuhan datang menjumpai kita dan ingin membawa kita masuk ke dalam sukacita-Nya.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini, marilah kita melakukan tiga hal sederhana. Pertama, luangkan waktu sejenak untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar mengucapkan kata-kata. Kedua, bukalah satu pintu yang selama ini tertutup: sapalah orang yang kita jauhi, dengarkan orang yang selama ini kita abaikan, atau mulailah berdamai dengan seseorang. Ketiga, lakukan satu kebaikan tanpa menunggu pujian atau balasan.

Kita tidak tahu kapan Tuhan akan mengetuk pintu hidup kita. Tetapi kita tahu bahwa setiap hari Ia memberi kita kesempatan untuk mengasihi.

Jangan menunggu saat terakhir untuk mulai hidup dengan sungguh-sungguh. Jangan menunggu semua masalah selesai untuk berdamai. Jangan menunggu orang lain berubah untuk mulai berbuat baik.

Biarlah pelita iman kita tetap menyala—bukan hanya di depan altar, tetapi juga di rumah, di tempat kerja, di komunitas, dan di tengah masyarakat. Dan ketika Tuhan datang mengetuk pintu hati kita, semoga Ia menemukan bukan hanya pelita yang menyala, melainkan juga hati yang terbuka.

Amin.

Posting Komentar