Lebih dari Sekadar Keberhasilan

Daftar Isi


 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Beberapa waktu yang lalu, seorang bertampang pejabat datang kepada saya berkata, “Romo, masih ingat saya. Saya sekarang sudah menjadi dokter. Saya tidak pernah lupa bahwa dulu romo pernah mengajar saya di SMP.” Sebagai mantan Guru tentu bahagia. Tetapi mungkin yang lebih membahagiakan bukanlah karena muridnya menjadi orang terkenal. Yang paling menyentuh adalah ketika ia menyadari: “Ternyata apa yang saya lakukan dahulu mempunyai arti bagi hidup.” Ada kebahagiaan yang lebih dalam daripada sekadar keberhasilan. Bukan soal seberapa besar hasil yang kita capai, tetapi soal apakah hidup kita sungguh berarti.

Injil hari ini menceritakan para murid yang baru kembali dari perutusan. Mereka datang dengan penuh semangat: “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu!” Mereka seperti orang yang baru menyelesaikan sebuah proyek besar dan berkata, “Berhasil, Tuhan! Lihat, kami berhasil!” Dan Yesus tidak mematikan kegembiraan mereka. Tetapi Yesus mengarahkan kegembiraan itu kepada sesuatu yang jauh lebih dalam: “Janganlah bersukacita karena roh-roh takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”

Menarik sekali. Para murid bersukacita karena apa yang mereka lakukan. Yesus mengajak mereka bersukacita karena siapa mereka di hadapan Allah.

Kita pun sering begitu. Kita mudah mengukur diri berdasarkan hasil. “Berapa banyak yang datang?” “Berapa orang yang bertobat?” “Berapa banyak kegiatan yang berhasil?” “Apakah orang menghargai saya?” Bahkan dalam pelayanan Gereja, kita bisa tanpa sadar mencari kepuasan dari tepuk tangan, ucapan terima kasih, atau keberhasilan program.

Kadang-kadang kita sudah bekerja keras untuk orang lain, tetapi ketika tidak ada yang mengucapkan terima kasih, hati kita mulai berkata, “Percuma saya melakukan semua ini.” Mengapa? Karena tanpa sadar kita menggantungkan nilai diri kita pada penghargaan orang lain.

Ada seorang ibu yang setiap hari bangun paling pagi, menyiapkan sarapan, mengurus rumah, bekerja, lalu masih memikirkan kebutuhan anak-anaknya. Suatu hari ia merasa sangat lelah. Ia berkata kepada keluarganya, “Saya ini sebenarnya dianggap ada atau tidak?” Tidak ada yang bermaksud menyakiti dia. Tetapi ia merasa tidak dilihat. Padahal pekerjaan yang paling penting dalam rumah sering justru pekerjaan yang paling sedikit mendapat tepuk tangan.

Bukankah kehidupan kita juga sering seperti itu?

Kita ingin dilihat. Kita ingin diakui. Kita ingin nama kita disebut. Kita ingin orang mengatakan, “Ini berkat dia.” Tetapi Yesus hari ini mengajak kita melihat lebih dalam: ada satu tempat di mana nama kita sudah dikenal, bahkan sebelum kita menghasilkan sesuatu apa pun. Nama kita ada di hadapan Allah.

Karena itu Yesus berkata, “Bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” Ini bukan berarti keberhasilan tidak penting. Pelayanan yang baik tetap penting. Prestasi tetap boleh disyukuri. Tetapi semua itu bukan sumber terdalam dari identitas kita. Kalau keberhasilan menjadi sumber identitas kita, ketika gagal kita merasa tidak berharga. Kalau pujian menjadi sumber identitas kita, ketika enak es2dikritik kita hancur. Kalau jabatan menjadi sumber identitas kita, ketika jabatan selesai kita merasa kehilangan diri.

Tetapi kalau identitas kita berakar pada kasih Allah, kita dapat berkata: “Saya mungkin berhasil, saya mungkin gagal. Saya mungkin dipuji, saya mungkin dilupakan. Tetapi saya tetap milik Tuhan.”

Dan di sinilah kita bisa memahami hubungan Injil dengan bacaan pertama tentang Ayub. Ayub kehilangan hampir semuanya. Harta hilang, keluarga mengalami penderitaan, hidupnya berubah total. Pada akhirnya Ayub berkata bahwa dahulu ia hanya mendengar tentang Allah, tetapi sekarang ia mengalami dan mengenal Allah dengan lebih dalam. Seolah-olah Ayub menemukan bahwa ketika segala sesuatu yang dapat dibanggakan manusia hilang, masih ada satu hal yang tidak hilang: Allah sendiri.

Mungkin ini juga pengalaman kita. Ada masa ketika kita merasa berhasil. Semua berjalan baik. Tetapi ada juga masa ketika usaha kita tidak dihargai, rencana gagal, pelayanan terasa tidak menghasilkan apa-apa, bahkan orang yang kita bantu justru mengecewakan kita. Pada saat seperti itu, Tuhan seakan bertanya: “Apakah engkau masih dapat bersukacita karena engkau adalah milik-Ku?”

Saudara-saudari, mungkin hari ini kita perlu mengubah satu pertanyaan. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya lakukan untuk Tuhan?” Tetapi tanyakan juga, “Apakah saya masih bersukacita karena Tuhan mengasihi saya?”

Sebab pelayanan yang sehat lahir dari identitas, bukan identitas yang lahir dari pelayanan. Kita tidak melayani supaya Tuhan mencintai kita. Kita melayani karena kita sudah lebih dahulu dicintai Tuhan.

Maka ketika hari ini kita pulang, cobalah mengingat satu hal sederhana. Kalau hari ini tidak ada seorang pun yang memuji kita, kalau pekerjaan kita tidak diperhatikan, kalau usaha kita terasa kecil dan tidak menghasilkan banyak, jangan cepat berkata, “Saya tidak berarti.”

Katakan dalam hati: “Namaku dikenal Tuhan. Hidupku berharga bagi-Nya. Aku tetap milik-Nya.”

Itulah sukacita yang tidak mudah dirampas oleh keadaan. Bukan sukacita karena kita hebat. Bukan karena kita berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi sukacita karena kita tahu: di tengah segala keberhasilan dan kegagalan hidup, Tuhan tidak pernah kehilangan nama kita.

Dan mungkin itulah yang paling penting pada akhirnya: bukan bahwa dunia mengingat nama kita, tetapi bahwa Tuhan mengenal nama kita.


Posting Komentar