Semakin Banyak Dipercaya, Semakin Besar Tanggung Jawab
Homili Rabu, 21 Oktober 2026
1. Pembukaan: Kepercayaan Adalah Tanggung Jawab
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Bayangkan seseorang diberi kunci rumah oleh sahabatnya yang hendak pergi ke luar kota. Ia dipercaya menjaga rumah itu, merawat tanaman, dan memastikan semuanya aman. Pada awalnya, ia merasa bangga karena dipercaya. Tetapi beberapa hari kemudian, ia mulai berpikir, “Pemiliknya masih lama pulang. Tidak ada yang mengawasi saya.” Ia pun mulai mengabaikan tugasnya. Tanaman dibiarkan layu, rumah tidak terurus, dan barang-barang dibiarkan berantakan.
Masalahnya bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Masalahnya adalah ia lupa bahwa kepercayaan bukanlah kesempatan untuk berbuat sesuka hati, melainkan panggilan untuk bertanggung jawab.
2. Injil: Setia Sekalipun Tidak Diawasi
Inilah pesan utama Injil hari ini. Yesus berbicara tentang seorang hamba yang dipercayai untuk mengurus rumah tuannya. Hamba yang setia tetap menjalankan tugasnya, sekalipun tuannya belum pulang. Sebaliknya, hamba yang jahat mulai menyalahgunakan kekuasaan dan memperlakukan sesama hambanya dengan kasar. Ia lupa bahwa apa yang dipercayakan kepadanya bukan miliknya sendiri.
Yesus kemudian memberikan sebuah prinsip yang sangat kuat: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk 12:48).
Ukuran kesetiaan bukanlah apa yang kita lakukan ketika semua orang melihat, melainkan apa yang tetap kita lakukan ketika tidak seorang pun mengawasi.
3. Penerapan: Berkat Harus Menjadi Pelayanan
Saudara-saudari, kita sering berpikir bahwa orang yang diberi banyak adalah orang yang memiliki banyak uang, jabatan tinggi, pendidikan hebat, atau kemampuan luar biasa. Padahal, setiap orang menerima sesuatu yang berharga dari Tuhan. Ada yang diberi kesehatan, ada yang diberi keluarga, ada yang diberi kemampuan memimpin, ada yang diberi keterampilan, dan ada pula yang diberi kesempatan untuk melayani.
Bahkan waktu yang kita miliki setiap hari adalah kepercayaan dari Tuhan. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang sudah saya terima?” melainkan, “Apa yang saya lakukan dengan apa yang sudah saya terima?”
Seorang ayah atau ibu yang dipercayai untuk membesarkan anak tidak cukup hanya menyediakan makanan dan biaya sekolah. Ia juga dipanggil untuk memberikan perhatian, teladan, dan kasih. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki jabatan; ia harus menggunakan kewenangannya untuk melayani, bukan untuk menakut-nakuti atau mencari keuntungan sendiri. Seorang pelayan Gereja tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan; ia juga harus menjadi pribadi yang rendah hati, dapat dipercaya, dan membawa damai.
Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika seseorang diberi wewenang untuk mengelola uang, mengambil keputusan, atau melayani kepentingan umum, kepercayaan itu menuntut kejujuran. Jabatan bukanlah hadiah untuk menikmati keistimewaan, melainkan tanggung jawab untuk memperjuangkan kebaikan bersama.
Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat atau orang terkenal untuk membuktikan kesetiaan. Kesetiaan justru tampak dalam perkara-perkara kecil: menyelesaikan pekerjaan dengan jujur ketika tidak ada yang mengawasi, menepati janji meskipun tidak menguntungkan, mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam, dan memperlakukan orang lain dengan hormat meskipun kita memiliki kedudukan lebih tinggi.
4. Bacaan Pertama: Pelayanan Adalah Rahmat Allah
Bacaan pertama, dari Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Efesus, membawa kita lebih dalam lagi. Paulus menyadari bahwa tugas mewartakan Injil merupakan rahmat yang dipercayakan Allah kepadanya. Ia tidak membanggakan diri seolah-olah semuanya merupakan hasil kehebatannya sendiri. Ia tahu bahwa pelayanan itu berasal dari kasih karunia Allah.
Di sini kita belajar bahwa tanggung jawab Kristiani bukan sekadar kewajiban yang membebani. Tanggung jawab adalah jawaban kita atas rahmat yang sudah lebih dahulu kita terima. Kita melayani bukan supaya Tuhan mulai mengasihi kita, melainkan karena kita sudah lebih dahulu dikasihi-Nya.
5. Ajakan Konkret: Mulailah dari Tanggung Jawab Kecil
Karena itu, berjaga-jaga seperti yang diajarkan Yesus bukan berarti hidup dalam ketakutan menunggu akhir zaman. Berjaga-jaga berarti menjalani hari ini dengan setia. Kita tidak tahu kapan Tuhan memanggil kita, tetapi kita tahu apa yang dipercayakan-Nya kepada kita sekarang.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya menggunakan waktu dengan baik? Apakah orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada saya merasa dikasihi dan dihargai? Apakah saya menggunakan jabatan, kemampuan, dan pengaruh untuk melayani atau justru untuk kepentingan diri sendiri?
Hari ini, pilihlah satu tanggung jawab yang mungkin selama ini kita abaikan. Laksanakanlah dengan lebih baik. Mungkin itu mendengarkan anggota keluarga, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, meminta maaf, atau melayani seseorang tanpa mengharapkan balasan.
Kita tidak harus melakukan hal-hal besar setiap hari. Kita hanya perlu setia melakukan hal yang benar, di tempat kita berada, dengan kasih yang nyata.
6. Penutup: Apa yang Akan Tuhan Temukan dalam Diri Kita?
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak hanya bertanya berapa banyak yang kita miliki, berapa tinggi jabatan kita, atau berapa banyak orang yang mengenal kita. Ia akan melihat bagaimana kita menggunakan semua yang dipercayakan-Nya.
Semoga ketika Tuhan datang, Ia menemukan kita bukan sekadar orang yang menerima banyak berkat, melainkan orang yang setia mengubah berkat itu menjadi kebaikan bagi sesama.
Amin.
Posting Komentar